Senin, 21 Juli 2008

Burj Al Taqa. Lilin raksasa setinggi 333 meter

Tidak seperti lilin lain pada umumnya yang berukuran sangat kecil dan bisa habis (berubah) energinya. Lilin yang satu ini memiliki ketinggian hingga 333 meter, dan selama ada angin dan matahari maka energi yang dihasilkannya tidak akan pernah habis. Oleh karena itu, tidak salah memang apabila lilin raksasa yang berada di Dubai ini diberi nama Burj Al Taqa, atau Energy Tower.

Burj Al Taqa dibangun dengan mengikuti prinsip-prinsip yang digunakan pada arsitektur arab tradisional. Semenjak jaman dahulu kala, bangsa arab telah mahir membuat bangunan yang dapat mengolah angin panas menjadi angin sejuk untuk menyegarkan orang-orang yang ada dalam bangunan tersebut. Dengan prinsip ini, Burj Al Taqa dapat menjaga suhu dalam bangunan tetap rendah tanpa menggunakan AC sama sekali. Prinsip ini membuat Burj Al Taqa dapat menghemat 40% kebutuhan listriknya.

Bagian luar dan dalam dari Burj Al Taqa ini juga dilengkapi dengan beberapa taman gantung. Taman-taman inilah yang bertugas untuk menjamin kesegaran dan kebersihan udara yang mengalir di dalam dan sekitar menara ini.

Burj Al Taqa mensuplai kebutuhan energinya sendiri. 100% kebutuhan energinya didapatnya dari pengolahan angin dan sinar matahari. Prinsip arsitektur tradisional yang ditiru Burj Al Taqa membuat angin panas terangkat ke udara, angin panas ini kemudian digunakan untuk memutar kincir angin – kincir angin yang diletakkan secara vertikal dalam bangunan. Kincir angin inilah yang menghasilkan energi bagi bangunan.
Pada puncak Burj Al Taqa juga terdapat alat untuk menangkap energi matahari. Alat ini dilengkapi sensor yang dapat mendeteksi posisi matahari, sensor ini memungkinkan Burj Al Taqa untuk dapat mengoptimalkan penangkapan sinar matahari dan juga pengolahan angin.

(source gizmag, inhabitat )